Senin, 27 Februari 2012

Resensi buku "Madre"


Makna Kehidupan Dalam Buku Kumpulan Cerpen “Madre”





Judul                              : Madre
Pengarang                       : Dewi Lestari “Dee”
Editor                             : Sitok Srengenge
Penerbit                          : Bentang Pustaka
Cetakan                          : Cetakan kedua, Agustus 2011
Tebal Buku                     : 162 halaman; 20cm






Madre adalah salah satu buku yang diterbitkan oleh Bentang pustaka  dikemas secara ringan dan menarik. Antologi ini merupakan salah satu hasil karya dari penulis ternama Dewi Lestari atau yang biasa dikenal dengan nama pena “Dee” lahir di Bandung, 20 Januari 1976. Dee terlahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong dan Turlan br Siagian (alm). Sejak kecil Dee telah akrab dengan musik.  Lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan ini awalnya dikenal sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. Sejak menerbitkan novel Supernova yang populer pada tahun 2001, ia juga dikenal luas sebagai novelis. Adapun karya fiksi Dee lainnya seperti Filosofi kopi (2006) dan Rectoverso(2008).
            Madre merupakan kumpulan karya Dee yang ketujuh selama lima tahun terakhir. Terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek disuguhkan dengan berbagai tema menarik seperti perjuangan seorang pemuda yang ingin menghidupkan kembali toko roti, arti sesungguhnya tentang apa itu cinta, dan juga tentang kepahlawanan. Namun dari sekian cerita yang ditampilkan ada satu yang lebih menarik untuk dibahas, yaitu kisah seorang pemuda bernama Tansen yang di darah nya mengalir darah Tionghoa, India dan Manado. Ia mendapatkan wasiat oleh lelaki yang bernama Tan. Tansen tidak mengenali siapa Tan, seiring berjalannya waktu dia pun tau ternyata Tan adalah kakeknya. Wasiat yang berisi sebuah kunci itu adalah kunci lemari pendingin yang merupakan tempat dimana Madre disimpan.



Madre lahir di sebuah toko bernama Tan De Bakker, yang tak lain nama pemiliknya “Tan Sin Gie”. Tansen yang awalnya tinggal di Bali, kini ia harus merelakan kehidupannya disana demi memperjuangkan toko roti Tan De Bakker yang telah tutup selama 5 tahun itu di sebuah kota bernama Jakarta. Ternyata Tan mewariskan Madre ke tangan yang tepat, terbukti baru beberapa hari Tansen di Jakarta Tan De Bakker seolah muncul lagi dan bangkit dari mati surinya itu.
Cerita-cerita di dalam buku ini menarik namun ada beberapa hal yang kurang logis penceritaannya. Sebagian kisah yang ditampilkan dengan kalimat sastra yang berat sehingga lama untuk dicerna apa maksudnya dengan pembaca, seperti dikutip dari cerita Percakapan di Sebuah Jembatan- ”Dan aku bertanya : apakah yang sanggup mengubah gumpal luka menjadi intan, Yang membekukan air mata menjadi kristal garam? Sahabatku menjawab : Waktu ” halaman 123
              Penceritaan alur di dalam buku ini sangat mengejutkan, membuat pembaca penasaran dengan ending yang akan diberikan oleh pemilik karya Madre ini. Pemilihan kata khas dari Dee pun menambahkan kesan yang mendalam, Inspiratif dan menjadi penyemangat tersendiri kepada pembacannya. Di setiap cerita terdapat makna yang mendalam seperti :
”Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban” -Semangkuk Acar Untuk Cinta dan Tuhan- halaman 103
”Layang-layang itu bebas di langit. Tapi tetap ada benang yang mengikatnya di Bumi" – Menunggu Layang-Layang- halaman 152
Dalam buku ini Dee setidaknya telah membuka rahasia dapur toko roti. Dee memberikan pengetahuan bahwa ternyata toko roti mempunyai formula khusus seperti adonan biang, yang diceritakan dalam kisah “Madre”.
Dengan kehadiran buku ini diharapkan dapat menjadi referensi, semoga bermanfaat bagi seluruh pembaca. Dan dapat dijadikan pelajaran untuk kehidupan kedepannya agar lebih baik lagi.

0 komentar:

Poskan Komentar